Selasa, 27 November 2012

Pendidikan Agama Islam Kelas XI IPA Semester 1& 2

SEMESTER 1
BAB III: Iman kepada Nabi dan Rasul

Sifat-sifat Wajib                     
a)      Siddiq:  Benar di dalam tutur kata dan tingkah laku.                     
b)      Amanah: Wajib menunaikan amanah yang dipertanggungjawabkan kepadanya, dapat dipercaya.
c)       Tabligh: Wajib menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada seluruh manusia tanpa disembunyikan.
d)      Fatanah: Cerdik, pintar, bijaksana.

Sifat-sifat Mustahil    
a)      Kizib: Dusta.
b)      Khianat: Curang, menipu.               
c)       Kitman: Menyembunyikan wahyu.
d)      Baladah:  Bodoh.

Tanda-tanda Beriman kepada para Rasul dan Nabi Allah SWT:
1)      Mempercayai bahwa rasul/nabi adalah manusia-manusia pilihan Allah yang diutus untuk menyampaikan wahyu Allah.
2)      Mempercayai bahwa para rasul wajib memiliki sifat yang terpuji (lihat sifat-sifat wajib),  juga memiliki sifat jaiz (manusiawi, misalnya butuh makan, minum, dan istirahat), dan mustahil bersifat tercela (lihat sifat-sifat mustahil).
3)      Memperayai bahwa diantara para nabi dan rasul ada 5 orang yang termasuk ulul azmi, yang mempunyai kesabaran dan ketabahan yang luar biasa. Yang termasuk ulul azmi ialah Nabi Muhammad SAW, Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS, dan Nuh AS.
4)      Mempercayai bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup seluruh nabi dan rasul yang bertugas menyempurnakan ajaran rasul-rasul sebelumnya.

Contoh-contoh perilaku beriman kepada Rasul-rasul Allah SWT:
1)      Mentaati risalah.
2)      Melaksanakan seruan Rasulullah untuk beribadah hanya kepada Allah.
3)      Rajin bekerja mencari rezeki yang halal.
4)      Mempunyai sikap tolong-menolong dalam kebaikan dan menjauhi sifat aniaya (terutama terhadap sesama muslim).
5)      Melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas hidup ke arah yang lebih baik.

SEMESTER 2 

 
AR-RUM 41-42: Tentang Larangan Berbuat Kerusakan Di Bumi
Terjemahan Ayat:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akhirat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (41)
Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)” (42)
Kesimpulan isi kandungan:
·         Penegasan Allah bahwa berbagai kerusakan yang terjadi di daratan dan di lautan adalah akibat ulah atau perbuatan manusia. Hal tersebut hendaknya disadari oleh umat manusia dan karenanya umat manusia harus segera menghentikan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan timbulnya kerusakan di daratan dan di lautan (termasuk angkasa raya) dan menggantinya dengan perbuatan baik dan bermanfaat untuk kelestarian alam (lingkungan hidup)
·         Suruhan untuk mempelajari sejarah umat-umat terdahulu. Berbagai bencana yang menimpa umat-umat terdahulu adalah disebabkan kemusyrikan mereka, mereka tidak mau menghambakan diri kepada Allah SWT. Mereka justru menghambakan dirinya kepada selain Allah (hawa nafsu setan).
AL-A’RAF 56-58: Tentang Larangan Berbuat Kerusakan Di Bumi
Terjemahan Ayat:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (56)
“Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahma Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (57)
Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami)bagi orang-orang yang bersyukur.” (58)
Kesimpulan isi kandungan:
·         Larangan Allah SWT kepada manusia untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Suruhan berdoa agar umat manusia tidak menjadi kaum perusak. Sebaliknya, dengan doa itu agar mereka menjadi golongan yang mushinin, yaitu golongan yang berbuat kebaikan-kebaikan.
·         Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menghembuskan angin, menggiring awan, dan menurunkan hujan di berbagai tempat yang dikehendaki-Nya seperti di daerah tandus. Air hujan yang diturunkan itu menyebabkan tanah yang tandus menjadi subur, tempat tumbuhnya berbagai jenis tanaman yang bermanfaat. Allah SWT berkuasa menghidupkan orang-orang yang telah mati.
·         Penegasan Allah SWT bahwa di atas tanah yang subur, akan tumbuh berbagai macam tamanan dengan baik. Sebaliknya, di atas tanah yang tandus tanaman tidak akan tumbuh dengan baik. Orang-orang yang bersyukur akan menyadari bahwa hal ini merupakan tanda kebesaran Allah SWT.
SAD 27: Tentang Keburukan Kaum Yang Berbuat Kerusakan Di Bumi
Terjemahan ayat:
“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (27)
Kesimpulan isi kandungan:
·         Penegasan Allah SWT bahwa langit, bumi, dan segala isinya sengaja diciptakan-Nya untuk kemanfaatan seluruh makhluk hidup, khususnya umat manusia. Tidak ada satu pun yang diciptakan Allah tanpa hikmah. Hal ini diyakini kebenarannya oleh orang beriman dan diingkari oleh orang kafir. Karena itulah Allah menempatkan orang kafir di neraka dan orang beriman di surga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar